Shade grown coffee : Model budidaya kopi di bawah naungan

Bagi orang Indonesia, mungkin istilah shade grown coffee masih terdengar asing di telinga kita. Istilah ini memang lebih populer di negara belahan dunia barat seperti Amerika dan Meksiko. 

Nah pada kesempatan kali ini, saya ingin membagikan informasi tentang shade grown coffee

Sebenarnya shade grown coffee ini banyak kita jumpai di sekitar kita. Kalian mungkin juga sudah sering melihat jika melakukan perjalanan ke daerah penghasil kopi, dimana dalam satu hamparan lahan tanaman kopi terdapat satu atau dua jenis pohon yang menjadi naungannya (misal : lamtoro, sengon, pinus, alpukat, karet, pisang dll).

Umumnya kita lebih mengenal istilah kopi bawah naungan/tegakan. 

Ya itu benar, shade grown coffee istilah sederhananya adalah kopi di bawah tegakan. Shade grown coffee masih dibagi lagi menjadi empat kategori. Yuk simak ulasannya berikut ini : 

 


Ilustrasi dari coffeehabitat.com

Rustic : Biasanya digunakan oleh petani dalam skala lokal (small family farm). Kopi ditanam di hutan dengan sedikit perubahan pepohonan asli. Jenis pohon naungan beragam, dengan jumlah rata-rata 25 jenis pohon naungan. Terdiri atas tiga atau lebih lapisan naungan. Prosentase penutupan naungan 70-100%.

Traditional Polyculture : Kopi ditanam di bawah kombinasi antara jenis pohon hutan asli dan jenis pohon kayu komersil yang sengaja ditanam (misal; sengon, pinus) serta pohon buah lainnya (misal; durian, nangka, pisang). Prosentase penutupan naungan dalam model ini antara 60-90%.

Commercial Polyculture : Lebih banyak pohon hutan asli yang ditebang untuk menambah jumlah tanaman kopi, serta naungan sebagian besar disediakan oleh pohon kayu komersil dan buah yang ditanam. Ranting dan kanopi (bagian dalam struktur morfologi pohon yang memiliki daun) pohon hutan asli dipangkas secara teratur, dan epifit (tanaman yang menempel pada pohon misal ; anggrek, paku-pakuan) biasanya dihilangkan. Lebih sering menggunakan pupuk dan pestisida karena kurangnya naungan pohon hutan yang membantu mencegah hilangnya nutrisi tanah. Biasanya hanya terbentuk dua profil lapisan kanopi yaitu lapisan kanopi pohon hutan dan lapisan tanaman kopi. Prosentase penutupan naungan dalam model ini antara 30-60%.

Shade Monoculture : Penanaman kopi dalam jarak tanam yang rapat (biasanya 2,5 x 2,5 m) dengan hanya satu atau dua jenis pohon sebagai naungan yang sekaligus punya nilai komersil (misal : sengon, lamtoro, jabon, mahoni, pinus, nangka, dll). Prosentase penutupan naungan dalam model ini antara 10-30%.

Full sun : Hampir atau bahkan tidak ada pohon naungan. Seluruh lahan berisikan tanaman kopi. Prosentase penutupan naungan 0-10%

Berdasarkan uraian shade grown coffee diatas, untuk lebih mudahnya, dapat saya lebih persingkat lagi dalam ilustrasi seperti di bawah ini.

Warna gradasi hijau s/d merah dalam ilustrasi menggambarkan level keramahan lingkungan tiap model pengelolaan. Semakin hijau semakin ramah lingkungan. Sebaliknya, semakin mendekati warna merah, semakin tidak ramah lingkungan karena tingginya intensifitas pengelolaan lahan. Selain itu juga dapat kalian pahami bahwa yang dimaksud dengan shade grown coffee sebenarnya adalah pengelolaan kebun kopi dari model rustic hingga shade monoculture. Jadi, apabila kita persempit lagi kategorinya, berdasarkan level kontras prosentase naungan ada dua model utama dalam pengelolaan kopi yaitu shade grown coffee dan full sun coffee.

/[wpr93]

Referensi :

Moguel, Patricia and Victor Toledo. 1999. Biodiversity Conservation in Traditional Coffee Systems of Mexico. Conservation Biology 13:11–21.

Rice, R. A., and J. F. Ward. 1996. Coffee, conservation, and commerce in the Western Hemisphere. Smithsonian Migratory Bird Center and National Resources Defense Council.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *