Para Penjelajah Malam Hutan Kemuning Bagian 3– Kubung Sunda

Oleh : Dewi Sulistiowati

Satwa penjelajah malam yang satu ini tidak kalah ikutan meramaikan sepinya malam di Hutan Kemuning, Temanggung Jawa Tengah. Mamalia pelayang ini memiliki ciri yang berbeda dari teman-teman lainnya seperti Beluk (Petaurisita pertaurisita pallas) dan Walangkopo (Iomsy horssifieldy) yang sudah disebutkan di beberapa postingan sebelumnya. Kubung sunda atau biasa disebut oleh masyarakat lokal Hutan Kemuning, kendung ini memiliki nama ilmiah Galeopterus variegatus.

Kubung sunda merupakan satwa mamalia pelayang yang aktif di malam hari atau nokturnal. Sebagian besar hidupnya dihabiskan di pohon atau arboreal. Kubung sunda dewasa memiliki berat antara 925-1750 gram Panjang tubuh-kepala kubung sunda sekitar 33-42 cm (13-17 inci). 

Panjang ekornya 18-27 cm (7,1-10,6 inci). Kubung sunda dapat berkamuflase dengan baik karena warna tubuhnya menyerupai dengan kulit pohon. Kubung sunda berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya dengan melayang dengan membentangkan selaput yang tertutup rambut (patagium) yang ia miliki. Kubung sunda memiliki patagium yang memanjang antara kepala dan kaki depan kaki depan (propatagium),  antara kaki depan dan kaki belakang (plagiopatagium) dan diantara kaki belakang dan ekornya (uropatgium)  dan menutupi jari-jari kakinya.

Kubung sunda jantan dan betina dapat dibedakan dengan warna rambut, foto saat melayang (ada tidaknya testis), dan kehadiran infant (membawa anak atau tidak). Kubung sunda jantan berwarna lebih terang dan cenderung coklat gelap, sedangkan kubung sunda betina berwarna keabu-abuan.

Perilaku

Kubung sunda mulai aktif saat senja sampai sebelum matahari terbit atau biasa disebut satwa nokturnal yang aktif di malam hari. Kubung sunda hidup soliter maupun dalam kelompok kecil dengn rasio perbandingan jantan dan beina 1:3, pada waktu tertentu yaitu pada saat musim kawin. Kubung sunda meghabiskan sebagian besar waktunya untuk beristirahat di atas pohon (menggantung atau menempel).

Kubung sunda banyak ditemukan menempel di batang utama atau menggantung di cabang pertama dekat batang utama. Kubung sunda mencari makan dan menghindari predator dengan melayang berpindah dari pohon satu ke pohon lainnya. Satwa ini dapat melakukan pelayangan didahului dengan memanjat vertikal di batang utama ke posisi yang lebih tinggi atau secara langsung dari cabang. Satwa ini melakukan pelayangan dengan membentangan patagiumnya, dan dapat melayang horizontal sejauh 150m.

Anak kubung sunda biasanya ditemukan menempel pada perut induk kubung sunda. Kubung sunda betina yang membawa anak cenderung lebih pasif dan tidak banyak melakukan pelayangan, lebih suka memilih pohon yang menyediakan banyak pakan (pohon besar dan tajuk tebal), sedangkan kubung sunda jantan lebih banyak  berpindah pohon.

Pakan Kubung Sunda

Kubung sunda beberapa disebutkan satwa pemakan daun (folivorius), sebab sebagian besar kubung sunda memakan daun. Kubung sunda disebutkan pula merupakan satwa omnivora di mana kubung sunda di Malaysia ditemukan menjilat semut di lubang pohon. Kubung sunda memakan daun, buah muda, bunga, tunas muda, getah dan serangga kecil.

Kubung sunda di Hutan Kemuning ditemukan memakan daun dari pohon peleman (Buchanania arborescens), nangka (Artocarpus heterophyllus), lamtoro (Leucaena leucocephala), jengkol (Archidendron pauciflorum), jambu alas (Syzygium cummini),  daun dan bunga salam (Syzygium polyanthum), buah muda (Ceiba pentandra), dan menjilat gum putat (Litsea velutina).

Sebaran Geografis dan Habitat

Kubung sunda tersebar luas di Asia Tenggara yang meliputi, Penisular Malaysia, Sabah, Sarawak, Singapura, Burma, Thailand, Vietnam Selatan, dan Kepulauan Indonesia (Sumatra, Jawa, Borneo, Bali) 2008). Di Jawa tercatat kehadiran kubung sunda ditemukan di bagian Jawa Barat dan penelitian yang telah dilakukan di Cagar Alam Pangandaran dan Jawa Timur di Taman Nasional Meru Betiri .

Catatan keberadaan kubung sunda, terkhusus di Jawa Tengah ditemukan di Hutan Kemuning Temanggung. Kubung sunda dapat hidup di dataran rendah dan pegunungan, di hutan primer, hutan sekunder, kebun kelapa, perkebunan karet, dan hutan dibawah 100 mdpl.

Reproduksi

Periode reproduksi belum diketahu dengan pasti, perkiran kubung mengandung selama 180 hari. Biasanya kubung hanya melahirkan 1 anak. Anak kubung tinggdal bersama induknya selama 6 bulan dan mencapai umur dewasa saat usia 2 tahun.

Peran Ekosistem

Sebagai pemakan buah muda dan bunga dapat membantu persebaran biji dan membantu penyerbukan.

Status Konservasi

IUCN dikategorikan dalam status risiko rendah (Least Concern).


Refrensi:

Beatson, K. 2011. “Galeopterus variegates” (On-line), Animal Diversity Web. Accessed April 02, 2019 at https://animaldiversity.org/accounts/Galeopterus_variegates/

Byrnes, G., Libby, T., Lim, N.T.-L. & Spence, A.J. 2011. Gliding Saves Time But Not Energy In Malayan Colugos. Journal of Experimental Biology. 214(16):2690–2696. . 

Byrnes, G., Lim, N.T.-L. & Spence, A.J. 2008. Take-off And Landing Kinetics Of A Fee-Ranging Gliding Mammal, the Malayan colugo (Galeopterus variegatus). Proceedings of the Royal Society B: Biological Sciences, 275(1638): 1007–1013.

Dzulhelmi, M.N. & Suriyanti, S.N.P. 2013. Behaviour of the Sunda Colugo Galeopterus variegatus in Bako National Park, Sarawak, Malysia. Journal of Science and technology in Tropics (2013) 9, 85–89.

Jackson, S.M. & Schouten, P. 2012. Gliding Mammals of the World. Smithsonian Contributions to Zoology.

Sulistiowati, Dewi. 2019. Perilaku Makan Kubung Sunda di Hutan Kemuning, Temanggung, Jawa Tengah. Skripsi. Fakultas Kehutanan. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *