Kabar Konservasi

Kenalkan Kopi Kukang dan Keindahan Eksplorasi Hutan Kemuning bersama SIMBA 2023

Foto bersama Wildlife Tourism

Ada yang terlihat berbeda di depan Auditorium Fakultas kehutanan UGM pada Rabu pagi (08/11/23). Meja-meja lengkap dengan barista di belakangnya dan cangkir-cangkir kopi kukang yang tersaji di depannya memberikan warna yang berbeda waktu itu. Beberapa orang terlihat antusias mengantri untuk menikmati racikan kopi kukang yang dibuat secara manual brew, memberikan sentuhan semangat pada pagi itu. Javan Wildlife Institute (JAWI) mendapat kesempatan untuk menyajikan sekaligus memperkenalkan kopi kukang pada kegiatan Symposium Indonesia-Malaysia for Bioacoustics (SIMBA) 2023 yang diadakan selama tiga hari. Selain itu, kami juga memiliki kesempatan untuk memperkenalkan hutan kemuning melalui agenda field trip yang diikuti oleh 10 peserta syimposium.

Kopi kukang, Robusta dari habitat alami kukang jawa

Booth Kopi Kukang di Simba 2023

Dengan suasana yang penuh semangat dan keceriaan, para peserta SIMBA tidak hanya menikmati secangkir kopi yang nikmat, tetapi juga mendapat penjelasan tentang inisiatif konservasi untuk Hutan Kemuning. Dalam era dimana coffee shop menjadi magnet bagi para anak muda sebagai tempat berkumpul atau bekerja, minuman kopi bukan hanya sekadar penambah semangat, tetapi juga sebuah kisah yang memikat. Kami mencoba menyajikan seduhan Kopi Kukang sebagai perwakilan kopi robusta yang kaya akan cerita, terutama dalam konteks konservasi habitat kukang jawa. 

“Kopi Kukang” berasal dari perkebunan kopi yang terletak di habitat asli kukang Jawa, tepatnya di Hutan Kemuning Temanggung. Keunikan kopi ini tidak hanya terletak pada cita rasa, tetapi juga pada prinsip-prinsip berkelanjutan yang diterapkan dalam pengelolaannya. Metode budidaya kopi di bawah naungan atau shade grown-coffee bukan hanya memberikan kontribusi positif terhadap kualitas kopi, tetapi juga menjadi langkah nyata dalam mendukung konservasi keanekaragaman hayati.

Penggunaan sistem  berkelanjutan dalam budidaya kopi tidak hanya mencakup upaya untuk melindungi kukang jawa, tetapi juga memberdayakan masyarakat lokal. Dengan menjaga harmoni antara pertanian kopi dan kehidupan satwa liar, “Kopi Kukang” menjadi simbol konkret dari bagaimana manusia dan alam dapat bersinergi demi keberlanjutan ekosistem.

Setiap tegukan “Kopi Kukang” bukan hanya memuaskan selera kopi, tetapi juga mengajak kita untuk terlibat dalam upaya konservasi yang lebih besar. Dengan memilih kopi ini, kita turut berperan dalam mendukung keberlanjutan lingkungan dan melindungi kehidupan satwa liar, khususnya kukang jawa. Sebuah langkah kecil yang memiliki dampak besar untuk menjaga keindahan alam dan keanekaragaman hayati di Hutan Kemuning, Kabupaten Temanggung.

Menilik keindahan alam dan budaya sekitar Hutan Kemuning

Tak hanya sebagai habitat Kukang Jawa, hutan seluas kurang lebih 400 ha juga menawarkan potensi dan cerita yang begitu kaya. Keindahan alamnya yang memukau, kearifan lokal yang masih terjaga, dan budayanya yang kaya membuat Kemuning menjadi hutan sekaligus desa yang menarik untuk dijelajahi. Salah satu yang sudah membuktikan keindahan hutan kemuning adalah rombongan peserta SIMBA yang melakukan  penjelajahan selama dua hari satu malam.

Tamu yang terdiri dari wisatawan lokal dan mancanegara menjelajah menyusuri jalan-jalan setapak hutan kemuning. Bersama dengan masyarakat, para tamu mencoba dan ikut merasakan kehidupan masyarakat yang ada di kemuning, seperti melihat cara memanen madu, membuat gula aren dan mengamati keanekaragaman hayati yang ada di hutan kemuning. Meskipun dalam waktu yang cukup singkat, para peserta antusias dalam mengikuti perjalanan kali ini.

Kehidupan masyarakat pedesaan yang masih menjunjung tradisi dan kearifan lokal menjadi fenomena langka di daerah lain. Petani madu hutan yang mahir memanen madu, asap yang mengepul dari dapur pembuat gula aren, dan aktivitas motor yang melintasi hutan untuk mengelola kebun kopi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang menarik bagi wisatawan. Seperti pada saat di tempat pembuatan gula aren, para tamu ikut mengaduk, mencetak, dan mencicipi gula aren buatan mereka. Begitupun pada saat mengunjungi petani madu, mereka mencoba madu langsung dari stup lebah yang dibudidayakan.

Pengenalan Madu Hutan bersama Kang Dayat, Salah Satu Warga Desa Kemuning

Tidak hanya kehidupan sehari-hari masyarakat kemuning yang menjadi daya tarik bagi para tamu. Datang pada malam minggu merupakan waktu yang pas untuk berkunjung ke Desa Kemuning. Para tamu berkesempatan ikut dan menyaksikan bentuk pelestarian budaya berupa tari warokan oleh pemuda-pemudi Desa Kemuning.  Tanpa memandang usia, anak-anak muda dan warga desa bersatu dalam tujuan yang sama: melestarikan budaya leluhur mereka. Tamu yang datang antusias dalam mengikuti jogetan tari warokan diiringi dengan alunan gamelan dan nyanyian dari sindennya. Hal tersebut mungkin menjadi pengalaman pertama bagi para tamu karena kebanyakan merupakan wisatawan mancanegara.

Perjalanan malam dilanjutkan dengan menyusuri gelapnya hutan Kemuning, untuk mencari salah satu penunggu hutan yang keberadaanya cukup sulit ditemukan yaitu kukang jawa. Keberadaan kukang jawa menjadi daya tarik utama bagi para wisatawan pecinta satwa liar. Dengan bantuan senter berwarna merah, para tamu mencari disela-sela tajuk pepohonan yang tinggi. Namun sayang, perjalanan itu tidak ditemukan kukang jawa tetapi satwa nokturnal lain penunggu hutan kemuning seperti kubung sunda, bajing terbang, ular, dan katak yang cukup memuaskan para tamu.

Pengamatan Malam Peserta Wildlife Tourism

Dengan potensi yang begitu melimpah, Desa Kemuning dapat lebih digali, terutama dalam konteks pengembangan kegiatan wisata minat khusus. Peningkatan dan diversifikasi pendapatan melalui sektor wisata diharapkan tidak hanya menjadi pendorong ekonomi desa tetapi juga sebagai upaya menjaga keseimbangan antara kehidupan sosial, alam, dan budaya yang telah terjaga dengan baik dari masa ke masa.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *